Jumat, 18 November 2011

ANDRAGOGI VS PEDAGOGI

A.    PENGERTIAN DAN SEJARAH ANDRAGOGI
Andragogi merupakan istilah istilah baru yang popular saat ini adalah teori belajar yang cocok dan tepat untuk orang dewasa. Istilah andragogi pertama kali dikenal melalui karya seorang ahli pendidikan Yugoslavia yang berjudul Adult Leadership (1968), yang artinya memimpin orang dewasa. Kemudian Malcom S. Knowles, dengan publikasinya yang berjudul Adult Learner: A Neglected Species.
Andragogi berasal dari bahasa Yunani, aner atau andr, yang berarti orang dewasa agogos, yang berarti mengarahkan/memimpin. Andragogi dirumuskan dalam suatu ilmu dan seni untuk membantu orang dewasa belajar. Karena individu orang dewasa adalah sebagai self directed, maka dalam andragogi yang lebih penting adalah kegiatan belajar dari si belajar, bukan kegiatan mengajar dari guru.
Istilah yang sering dipakai sebagai perbandingan adalah pedagogi yang berasal dari kata paid, yang artinya anak, dan agogos, yang berarti memimpin/membimbing, dimana secara harfiah pedagogi berarti seni dan pengetahuan mengajar anak. Karena pedagogi berarti seni dan pengetahuan mengajar anak, maka memakai pendekatan pedagogi untuk orang dewasa tidak tepat, karena mereka bukan lagi anak-anak.
Tingkat ketergantungan anak-anak kepada orang dewasa masih tinggi dan menurun seiring dengan bertambahnya usia mereka. Karenanya praktek pedagogi lebih cocok pada anak-anak, yang berarti bahwa anak-anak dapat diajar untuk memperoleh suatu pengetahuan dan pengalaman tertentu. Berbeda halnya dengan orang dewasa, mereka sudah punya self directing, dan tingkat ketergantungan kepada orang lain berkurang. Orang dewasa lebih cenderung dibimbing, dimotivasi untuk memperoleh sesuatu yang pada akhirnya mereka sendiri dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

B.     PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANDRAGOGI DENGAN PEDAGOGI
Pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan anak-anak (paedagogy). Pendidikan anak-anak akan berlangsung dalam bentuk asimilasi, identifikasi, dan peniruan, sedangkan pendidikan orang dewasa menitikberatkan pada peningkatan kehidupan mereka, memberikan keterampilan dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang mereka alami dalam hidup mereka dan dalam masyarakat.
Perbedaan antara konsep andragogi dan pedagogi adalah bahwa konsep andragogi berkaitan dengan proses pencarian dan penemuan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia untuk hidup, sedangkan konsep pedagogi berkaitan dengan proses mewariskan kebudayaan yang dimiliki generasi yang lalu kepada generasi sekarang.
Terdapat 4 (empat) konsep untuk membedakan antara orang dewasa dan anak-anak, yaitu:
(1) konsep diri,
(2) konsep pengalaman,
(3) konsep kesiapan belajar, dan
(4) konsep perspektif waktu atau orientasi belajar. 
Menurut konsep diri orang disebut dewasa, jika orang tersebut:
(1) mampu mengambil keputusan bagi dirinya,
(2) mampu memikul tanggung jawab, dan
(3) sadar terhadap tugas dan perannya.
Adapun menurut konsep pengalaman orang dewasa adalah kaya dengan pengalaman, tidak seperti botol yang kosong atau lembaran kertas yang bersih. Konsep kesiapan belajar menekankan bahwa orang disebut dewasa kalau sadar terhadap kebutuhannya dan kesadaran terhadap kebutuhan inilah yang akan menjadi sumber kesiapan untuk belajar. Sedangkan menurut konsep perspektif waktu atau orientasi belajar adalah bahwa orang dewasa belajar berpusat pada persoalan yang dihadapi sekarang, yaitu bagaimana menemukan masalah sekarang dan memecahkannya sekarang juga. Jadi, belajar sekarang untuk digunakan sekarang, bukan belajar sekarang untuk bekal masa datang. Pendidikan (education) tidak sama dengan sekolah (schooling). Sekolah merupakanbagian dari kegiatan pendidikan atau belajar. Sekolah secara umum diarahkan untuk pendidikan anak (TK, SD ) dan pemuda ( SMP – SMA ) Perguruan Tinggi. Pendidikan Orang Dewasa secara umum dilakukan dalam pendidikan non formal, yang dapat dilakukan di tempat kerja, masyarakat dalam bentuk kurus atau kepelatihan.
Pendidikan orang dewasa dapat dilakukan secara mandiri (self education) yang tidak tergantung pada lembaga pendidikan yang menyusun program pendidikan.
·         2-4 tahun adalah masa keemasan (golden age) masa dimana terjadi perubahan yang sangat cepat pada kecerdasan (IQ) masa ini anak-anak dapat dengan cepat mengembangkan IQnya, menjadi 80% pada usa 4 tahun.
·         Life long education, belajar dilakukan dari lahir sampai meninggal.
Paedagogi berbentuk identifikasi dan peniruan sedangkan andragogi berbentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah.
Dalam andragogi terdapat hubungan timbal balik di dalam transaksi belajar-mengajar, di mana hubungan pengajar dan pelajar adalah hubungan yang saling membantu. Dalam pedagogi terdapat hubungan ketergantungan (dependent) dari murid kepada guru, di mana hubungan guru dan murid adalah hubungan yang bersifat memerintah.
Dalam andragogi komunikasi banyak arah dipergunakan oleh semua yang hadir (pengajar dan pelajar) sebagai warga belajar, di mana pengalaman dari semua yang hadir dinilai sebagai sumber untuk belajar. Dalam pedagogi komunikasi satu arah terjadi antara guru dan murid, di mana pengalaman guru dinilai sebagai sumber utama untuk belajar.
Dalam andragogi pelajar mengelompokkan dirinya berdasarkan minat, di mana pengajar memfasilitasi untuk membantu pelajar menentukan kebutuhan belajarnya. Dalam pedagogi murid di-kelompokkan berdasarkan tingkatan atau kelas, di mana guru menyusun kurikulum untuk setiap tingkatan atau kelas tersebut.
Dalam andragogi belajar berorientasi pada pemecahan masalah, yaitu belajar sambil bekerja pada persoalan sekarang untuk dipergunakan sekarang juga. Dalam pedagogi orientasi belajarnya adalah pada mata pelajaran yang dipelajari oleh murid sekarang untuk bekal hidup di masa mendatang.
Tabel: 1
Perbandingan Rancangan Bangun Pendidikan
Antara Andragogi dan Pedagogi

No
Matra
Unsur Rancang Bangun
Pedagogi
Andragogi/Gerentologi
1
Suasana
Berorientasi pada otoritas formal dan bersaing
Ketimbal-balikan, saling menghargai, bekerja sama, informal
2
Perencanaan
Oleh guru/pelatih
Mekanisme perencanaan bersama
3
Diagnostik kebutuhan
Oleh guru/pelatih
Diagnostik diri timbal balik
4
Perumusan tujuan
Oleh guru/pelatih
Perbandingan bersama
5
Rancangan bangun
Logika mata pelajaran
Dituntut menurut kesiapan satuan masalah
6
Kegiatan Penilaian
Teknik penyampaian oleh guru/pelatih
Diagnostik ulang kebutuhan timbal balik, pengukuran program bersama

C.     BEBERAPA ASUMSI TENTANG BELAJAR MENGAJAR
Pendekatan yang bersifat andragogi dalam proses belajar mengajar didasarkan pada asumsi-asumsi berikut.
a.       Orang dewasa  dapat belajar
Semula ada anggapan berdasarkan laporan yang dikemukakan oleh Thorndike bahwa kemampuan untuk belajar seseorang menurun secara perlahan sesudah umur 20 tahun. Tetapi hasil studi terakhir yang dimukakan oleh Irving Horge menunjukan bahwa menurunnya itu hanya dalam kecepatan dalam belajarnya dan bukan dalam hal kekuatan intelektualnya. Hasil penelitian selanjutnya menunjukan bahwa dasar kemampuan untuk belajar masih tetap ada sepanjang hidup orang tersebut, dan oleh karena itu apabila seseorang tidak menampilkan kemampuan yang sebenarnya, hal ini disebabkan karena beberapa faktor, seperti orang tersebut sudah lama meninggalkan cara belajar yang sistematis atau karena adanya perubahan-perubahan faktor fisiologis seperti pendengaran dan penglihatan yang terganggu.
b.      Belajar adalah suatu proses dari dalam
Asumsi bahwa belajar sebagai suatu proses yang bersifat eksternal, dalam arti peserta didik belajar terutama ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar seperti guru yang terampil, bahan bacaan yang baik dan sejenisnya. Pandangan baru mengemukakan bahwa belajar merupakan proses dari dalam yang dikontrol langsung oleh peserta sendiri serta melibatkan dirinya seperti fungsi intelektual, emosi, dan fisik serta psikologinya dipandang sebagai suatu pemenuhan kebutuhan dan tujuan.

c.       Kondisi belajar dan prinsip-prinsip mengajar
Kondisi Belajar
Prinsip-prinsip Belajar
Peserta merasa ada kebutuhan untuk belajar.









Lingkungan belajar ditandai dengan keadaan fisik yang menyenangkan, saling menghormati dan mempercayai, saling membantu, kebebasan mengemukakan pendapat dan menyetujui adanya perbedaan.

Peserta memandang tujuan pengalaman belajar menjadi tujuan mereka sendiri.

Peserta dapat menyetujui untuk saling bertanggungjawab dalam perencanaan dan pelaksanaan pengalaman belajar, harusnya mereka mempunyai rasa memiliki terhadap hal tersebut.

Peserta berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar.


Proses belajar dikaitkan dengan mengemukakan pengalaman bersama.







Peserta mempunyai rasa keinginan terhadap tujuan belajar mereka.
1.      Fasilitator mengemukakan kepada peserta kemungkinan-kemungkinan baru untuk pemenuhan dirinya,
2.      Fasilitator membantu setiap peserta mendiagnosa perbedaan antara aspirasinya dengan tingkat penampilannya sekarang,
3.      Fasilitator membantu peserta mengidentifikasi masalah-masalah kehidupan yang mereka alami karena adanya perbedaan  tadi,
4.      Fasilitator membantu setiap peserta untuk memperjelas aspirasi dirinya untuk peningkatan perilakunya,
5.      Fasilitator memberikan kondisi fisik yang menyenangkan seperti tempat duduk, ventilasi, lampu yang kondusif untuk terciptanya interaksi antara peserta satu sama lain,
6.      Fasilitator memandang bahwa setiap peserta merupakan pribadi yang bermanfaat dan menghormati perasaan-perasaaan mereka,
7.      Fasilitator membangun hubungan saling membantu antara peserta dengan mengembangkan kegiatan yang bersifat kooperatif dan mencegah adanya persaingan,
8.      Fasilitator melibatkan peserta dalam proses merumuskan tujuan belajar, di mana kebutuhan peserta, tenaga pengajar, dan masyarakat ikut diperhitungkan,
9.      Fasilitator ikut serta dalam merancang pengalaman belajar dan memiliki bahan-bahan dan metode serta melibatkan peserta dalam setiap keputusan bersama-sama,





10.  Fasilitator membantu peserta mengorganisir dirinya/kelompok untuk melakukan proyek, tim belajar mengajar, studi belajar, dll, untuk turut serta bertanggungjawab dalam proses pencarian sarana,
11.  Fasilitator membantu peserta menggunakan pengalaman mereka sendiri sebagai sumber melalui penggunaan teknik seperti diskusi, permainan peran, kasus dan sejenisnya,
12.  Fasilitator menyampaikan presentasinya berdasarkan sumber-sumber dari dirinya terhadap tingkat pengalaman mereka,
13.  Fasilitator membantu peserta mengimplikasikan belajar baru terhadap pengalaman mereka, dan ini berarti membuat belajar lebih berwarna dan berfaedah,
14.  Fasilitator melibatkan peserta dalam mengembangkan kriteria yang disetujui bersama serta metode dalam mengukur kemajuan terhadap tujuan belajar,
15.  Fasilitator membantu peserta mengembangkan dan mengaplikasikan prosedur dalam mengevaluasi diri sendiri berdasarkan kriteria itu.



 
D.          BEBERAPA ASUMSI TENTANG ORANG DEWASA DAN IMPLIKASINYA DALAM BELAJAR
Pendekatan andragogi didasarkan pada asumsi-asumsi tentang orang dewasa sebagai berikut.
a.          Konsep diri
Konsep diri pada seorang anak adalah tergantung pada orang lain. Hampir seluruh kehidupan anak diatur oleh orang dewasa baik di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, maupun di tempat-tempat bermain. Ketika anak beranjak menuju ke arah dewasa, mereka menjadi berkurang ketergantungannya kepada orang tua dan orang lain, dan mulai tumbuh dan merasa dapat mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Ia memandang dirinya sudah mampu untuk sepenuhnya berdiri sendiri. Oleh karena itu orang dewasa butuh pengalamannya dihargai misalnya dalam hal mengambil keputusan. Mereka akan menolak apabila diperlakukan seperti anak kecil, misalnya diceramahi.
Di lain pihak apabila orang dewasa dibawa ke dalam situasi belajar yang memperlakukan mereka dengan penghargaan, maka mereka akan melakukan proses belajar tersebut dengan penuh pelibatan dirinya secara mendalam. Implikasinya konsep diri tersebut dalam belajar adalah antara lain.
1)         Iklim belajar perlu diciptakan sesuai dengan keadaan orang dewasa. Baik ruangan yang digunakan maupun peralatan (kursi, meja dan sejenisnya) disusun dan diatur sesuai denga selera orang dewasa, dan memberikan rasa kenyamanan bagi mereka. Dalam kegiatan belajar perlu diciptakan kerjasama dan saling menghargai antara sesama peserta, maupun antara peserta dengan fasilitator. Setiap peserta diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan pandangannya tanpa ada rasa takut dihukum maupun dipermalukan.
2)         Peserta diikutsertakan dalam mendiagnosa kebutuhan belajar. Mereka akan merasa terlibat dan termotivasi untuk belajar, apabila apa yang dipelajari itu sesuai dengan kebutuhan yang ingin dipelajari.
3)         Peserta dilibatkan dalam proses perencanaan belajarnya. Dalam perencanaan ini kedudukan fasilitator lebih banyak berfungsi sebagai penghubung dan narasumber. Dengan melibatkan peserta dalam kegiatan belajar, maka mereka akan bertanggungjawab pula terhadap kegiatan belajar yang akan mereka lakukan.
4)         Dalam proses belajar mengajar terdapat tanggungjawab bersama antara fasilitator dan peserta. Fasilitator berperan sebagai narasumber dan katalisator berperan sebagai guru. Dalam kegiatan belajar, orang dewasa harus dapat membantu orang dewasa untuk mau belajar.
5)         Evaluasi belajar menekankan kepada evaluasi diri (self evaluation). Fasilitator lebih banyak membantu peserta untuk menilai sejauh mana mereka memperoleh keinginan dalam proses belajarnya.

b.         Pengalaman
Orang dewasa mempunyai pengalaman yang lebih banyak bila dibandingkan dengan anak-anak karena mereka sudah lama hidup. Bagi anak-anak pengalaman lebih banyak berasal dari luar dan mempengaruhi dirinya dan bukan merupakan bagian yang terpadu dengan dirinya. Bagi orang dewasa, pengalaman itu adalah dirinya sendiri. Perbedaan pengalaman antara orang dewasa dengan anak menimbulkan konsekuensi dalam belajar, yakni bahwa orang dewasa lebih banyak mengkontribusikan pengalamannya dalam belajar, orang dewasa mempunyai pengalaman yang lebih kaya dan mempunyai pola pikir dan kebiasaan yang pasti. Implikasinya dalam belajar adalah sebagai berikut.
1)         Proses belajar pada orang-orang dewasa lebih ditekankan pada teknik menyerap pengalaman mereka seperti kelompok diskusi, metode kasus, simulasi, bermain peran, pelatihan proyek, bimbingan konsulatif, demonstrasi, seminar dan sebagainya.
2)         Penekanan dalam proses belajar adalah aplikasi praktis. Penjelasan konsep baru dalam kegiatan belajar dijelaskan melalui pengalaman-pengalaman kehidupan yang berasal dari dirinya dan lebih diutamakan pada aplikasi dari hasil belajarnya.
3)         Penekanan proses belajar adalah belajar dari pengalaman. Bagi orang dewasa yang utama adalah memikul tanggungjawab terhadap belajarnya sendiri melalui penerimaan sendiri tanpa diarahkan orang lain.

c.          Kesiapan untuk Belajar
Menurut Havighurst, penampilan orang dewasa dalam melaksanakan peranan sosialnya berubah sejalan dengan perubahan dari ketiga fase dewasa, sehingga hal ini mengakibatkan pula kesiapan dalam belajar. Suatu contoh dalam peran seorang sebagai pekerja, maka tugas pengembangannya adalah memperoleh pekerjaan. Pada saat itu ia sudah siap untuk belajar segala sesuatu yang diperlukan untuk memperoleh pekerjaan. Implikasi dan kesiapan belajar ini, di antaranya adalah:
1)         Urutan kurikulum dalam proses belajar orang dewasa disusun berdasarkan tugas perkembangannya dan bukan disusun berdasarkan urutan topik mata pelajaran berdasarkan kebutuhan lembaga.
2)         Adanya konsep mengenai tugas-tugas perkembangan orang dewasa akan memberikan petunjuk dalam belajar kelompok. Misalnya, minat orang dewasa yang belum mempunyai anak dengan orang dewasa dan sudah mempunyai terhadap program pemeliharaan anak akan berbeda, sehingga  mempengaruhi kegiatan belajarnya.

d.         Orientasi terhadap Belajar
Orientasi belajar orang dewasa dengan anak-anak berbeda. Anak-anak cenderung untuk menunda aplikasi dari apa yang dipelajarinya. Pendidikan baginya adalah sebagai penumpukan pengetahuan dan keterampilan yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat. Sebaliknya, bagi orang dewasa pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari adalah untuk secepatnya diaplikasikan di dalam kehidupan.
Implikasi orientasi tersebut dalam proses belajar di antaranya adalah sebagai berikut.
1)         Peran guru bukan sebagai pengajar, tetapi ia berperan sebagai pemberi bantuan kepada orang dewasa yang belajar.
2)         Kurikulum pada orang dewasa tidak berorientasi kepada suatu mata pelajaran, akan tetapi berorientasi pada masalah.
3)         Pengalaman belajar dirancang berdasarkan pada masalah dan perhatian mereka.


E.           PERBEDAAN ORANG DEWASA DAN ANAK DALAM BELAJAR
Setelah memahami tentang asumsi-asumsi tersebut di atas serta implikasinya dalam kegiatan belajar orang dewasasebetulnya telah menyiratkan prihal perbedaan antara orang dewasa dengan anak-anak dalam belajar. Untuk lebih jelasnya perbedaan orang dewasa dengan anak dalam belajar dapat dilihat pada table berikut ini.
Tabel 1
Orang Dewasa dan Anak-anak dalam Belajar

No
Komponen-komponen Pembelajaran
Pedagogi/Anak-anak
Andragogi/Gerentologi
1


2

3




4




5


6


7


8


9
Tujuan Pembelajaran


Materi Pelajaran

Metode dan Teknik




Sumber Belajar/Guru




Evaluasi


Kurikulum


Waktu


Tempat


Sarana/Prasarana
Diarahkan untuk masa yang akan datang.

Lebih umum

Ceramah guru lebih dominan



Ditentukan secara formal




Keberhasilan dalam belajar

Ditentukan oleh lembaga tertentu

Ditentukan oleh guru


Ditentukan oleh guru/pengelola

Lembaga/pengelola/guru
Untuk saat sekarang (dapat dimanfaatkan segera)

Praktis, keterampilan

Lebih banyak mengajak WB, untuk berbuat melalui diskusi, metode kasus, simulasi, dll.

Tidak ditentukan secara formal, asal punya keterampilan dan mau membantu WB

Evaluasi diri (self evaluation)

Dirancang secara bersama antara tutor dengan WB

Kesepakatan antara tutor dengan WB

Disepakati antara tutor dengan WB

Disepakati bersama antara tutor, WB, dan pengelola

F.            PRINSIP-PRINSIP BELAJAR ORANG DEWASA
Berdasarkan uraian sebelumnya, telah dikemukakan bahwa orang dewasa yang datang pada suatu pertemuan/kegiatan belajar telah memiliki konsep diri dan membawa pengalaman-pengalaman masa lampau. Hal ini akan mewarnai orang dewasa dalam setiap aspek kegiatan belajar yang dilaksanakannya.
Para pengelola dan pelaksana pada pendidikan orang dewasa dalam membelajarkan mereka perlu memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Hal itu akan dapat memudahkan kita menolong mereka dalam mengarahkan mereka sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan dan diharapkannya. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut.
a.       Problem Centered
Pembelajaran harus berpusat pada masalah yang dihadapi warga belajar/orang dewasa. Masalah adalah kesenjangan antara yang diinginkan dengan kenyataan yang ada. Masalah yang ada tersebut perlu dicarikan pemecahannya. Dalam membelajarkan orang dewasa belajar selalu dipusatkan pada masalah. Seorang pembimbing/fasilitator dan tutor harus dapat merangsang mereka untuk belajar. Pembimbing tersebut juga harus dapat meyakinkan orang dewasa bahwa yang akan dipelajari itu merupakan suatu masalah yang menyangkut tentang dirinya.
Kenapa dalam membelajarkan orang dewasa selalu dipusatkan pada masalah (problem centered). Alasannya adalah orang dewasa akan mau belajar kalau dia menemui masalah. Dengan demikian mereka akan belajar karena yang dipelajarinya itu mempunyai manfaat baginya dan mereka merasa perlu untuk menghadapi masalah yang dihadapinya, misalnya petani tradisional akan belajar kalau ada masalah, seperti hasil ladangnya yang tidak memenuhi kebutuhan sehingga mereka ingin belajar bagaimana cara meningkatkan hasil pertanian.

b.      Fungsional
Dalam proses belajar orang dewasa, hendaknya apa yang dipelajari itu mempunyai arti atau mempunyai fungsi untuk warga belajar, sebab orang dewasa akan mau belajar apabila yang dipelajari ada manfaat bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebelum memberikan pendidikan kepada warga belajar, seorang pembimbing tutor, fasilitatorharus melakukan identifikasi kebutuhan warga belajar. Seandainya kita memberikan pendidikan kepada masyarakat nelayan, maka pembimbing harus memberikan pendidikan tentang teknik penangkapan ikan yang baik, sehingga dapat diperoleh hasil yang memadai.

c.       Experience Centered/Berpusat pada Pengalaman
Pemusatan pelajaran pada pengalaman. Maksudnya di sini bahwa dalam membelajarkan haruslah dipusatkan kepada pengalaman warga belajar. Pengalaman-pengalaman WB dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar. Oleh sebab itu, di dalam proses interaksi belajar orang dewasa, merekalah yang semestinya banyak berbuat. Dengan kata lain, warga belajar dilibatkan dalam proses belajar, karena dengan keterlibatan tersebut maka mereka akan merasa bertanggungjawab. Apabila pelajaran yang diberikan didasarkan pada pengalaman mereka, maka secara otomatis mereka akan tertarik untuk belajar, karena yang dipelajari berhubungan dengan keinginan mereka.

d.      Merumuskan Tujuan
Dalam kegiatan belajar orang dewasa, mereka dilibatkan sejak dari awal sampai dengan berakhirnya kegiatan belajar. Warga belajar ikut menentukan sendiri apa yang akan dipelajarinya, merumuskan tujuan yang akan dicapai, dan melaksanakan kegiatan belajarnya. Dengan melibatkan mereka sejak dari awal sampai akhir maka diharapkan hasil belajar akan dapat dicapai dengan baik.

e.       Feed Back (Balikan)
Umpan balik di sini artinya warga belajar mengetahui hasil belajar yang telah dicapainya. Apabila mereka telah mengetahui hasil belajarnya, maka warga belajar diharapkan dapat meningkatkan kegiatannya ke arah perbaikan cara belajarnya. Warga belajar harus tahu sampai dimana proses belajar itu telah dilaluinya.
Penilaian dalam proses belajar sangat diperlukan, warga belajar harus mendapatkan umpan balik dari proses belajarnya. Sampai dimana kemampuan mereka dalam belajar, sampai dimana pelajarandapat dicapai dan dikuasai. Apakah pelajaran tersebut dapat merubah cara ke arah perbaikan diri sendiri, dan apakah belajar dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan adanya umpan balik tersebut akan sangat menentukan kegiatan belajar selanjutnya.
Selanjutnya, Miller mengidentifikasikan enam kondisi yang prinsip bagi keberhasilan orang dewasa dalam belajar, yaitu:
1)      Warga belajar orang dewasa harus dimotivasi agar berubah tingkah lakunya,
2)      Warga belajar harus disadarkan akan ketidakmampuannya untuk berperilaku,
3)      Warga belajar harus memiliki gambaran yang jelas terhadap tingkah laku yang diajukan,
4)      Warga belajar harus diberi kesempatan untuk mempraktekkan tingkah laku yang diinginkan,
5)      Warga belajar harus mendapat dukungan atas tindakannya yang benar, dan
6)      Warga belajar harus memiliki serangkaian materi yang tepat untuk dipraktekkan.


2 komentar:

  1. tampilanya aga kurang enak , soalnya warna tulisanya biru telor asin dan background nya putih jadi saru liatnya

    BalasHapus