Jumat, 18 November 2011

BEBERAPA PENDEKATAN DALAM PENDIDIKAN ORANG DEWASA

A.    PENDEKATAN PEMUSATAN MASALAH
Suatu kurikulum (pada pendidikan orang dewasa lebih tepat dipakai rancangan kegiatan) yang berpusat pada masalah, mengarahkan pengalaman belajar pada kehidupan para peserta didik sehari-hari, dan akan mempunyai manfaat secara langsung. Orang dewasa biasanya mereka akan belajar apabila mereka dihadapkan pada masalah atau motivasi belajar akan muncul apabila ada persoalan yang dihadapi. Contoh: di suatu desa atau wilayah banyak penduduk yang dijangkiti demam berdarah, kemudian orang dewasa akan berusaha memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat atau warga akan belajar kenapa terjadi demam berdarah, serta upaya yang dilakukan dalam mengatasi berjangkitnya demam berdarah.
Dalam pendekatan pemusatan pada masalah, diskusi kelompok dan berpikir sangat dipentingkan, pada diskusi kelompok akan terjadi keikutsertaan atau keterlibatan peserta didik, sehingga terjadi hubungan-hubungan saling percaya antara peserta didik dengan fasilitator, begitu juga sesama peserta didik.

B.     MODEL KHIT-PAN DI THAILAND
Konsep Khit-pan ini dilakukan dalam program pendidikan luar sekolah di Thailand, dan konsep Khit-pan ini dapat pula diterapkan pada pendidikan orang dewasa di Indonesia. Khit-pan ini berarti dapat berfikir secara rasional dan kritis, pada akhirnya menuju pemecahan masalah. Seseorang yang mengalami Khit-pan akan mampu mendekati masalah sehari-hari secara sistematis. Ia akan mampu menelaah penyebab masalahnya, ia akan mampu menelaah penyebab masalahnya, ia akan mampu mengumpulkan informasi untuk pengambilan tindakan yang harus diambil, dalam rangka pemecahan masalah.
Konsep Khit-pan didasari filsafat bhuda. Pertama; hidup adalah penderitaan, kedua; penderitaan dapat diatasi, ketiga; untuk mengatasi, maka sumber penderitaan harus diidentifikasikan dan kemudian baru mencari cara pemecahan yang baik.
Sehubungan dengan konsep Khit-pan, maka pengembangan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan 4 strategi, yaitu:
1.      Strategi pertama sebelum merancang kegiatan pembelajaran dilakukan lebih dahulu identifikasi kebutuhan warga belajar dalam mencari kebutuhan belajar digunakan baseline survey. Hasilnya dipecah menjadi 73 konsep.
2.      Strategi kedua, merencanakan satuan pelajaran dan proses diskusi, sehingga setiap pertemuan memberikan kesempatan untuk berlatih dalam pemecahan masalah. Melalui pertemuan-pertemuan peserta didik mengembangkan kemampuan kritis tentang keadaan dalam kehidupannya sehari-hari, dimana mereka telah mempunyai pengalaman yang dapat mereka sumbangkan dalam diskusi tersebut.
3.      Strategi ketiga, banyak menggunakan gambar atau perangsang diskusi, dan berfungsi sebagai alat untuk mempraktekkan teknik atau keterampilan memecahkan masalah. Tugasnya adalah menciptakan bahan-bahan belajar yang merangsang untuk mengembangkan pola pikir yang rasional dan kritis.
4.      Strategi keempat, kurikulum disusun secara luwes untuk mengakomodasi keanekaragaman peserta didik. Hal ini memungkinkan kepada tutor untuk menerapkan dan menyesuaikan program belajarnya dengan keadaan lingkungan setempat dan menyesuaikan dengan minat peserta didik serta dimasukkannya masalah-masalah baru yang diidentifikasikan oleh peserta didik selama proses belajar berlangsung, suasana belajar diatur secara luwes. Peraturan-peraturan di dalam kelas untuk orang dewasa lebih longgar dari pada peraturan-peraturan yang berlaku pada sekolah-sekolah formal biasa. Tempat belajar tidak harus di dalam ruangan dan juga di rumah penduduk, dibalai desa, dan sebagainya. Cara duduk peserta didik tidak diatur seperti di dalam kelas, sehingga pendidik dapat saling tatap muka.

C.     PENDEKATAN PROYEKTIF
Pendekatan proyektif yaitu membelajarkan warga belajar melalui cerita pendek dan sandiwara. Setelah cerita dimainkan, warga belajar berdiskusi tentang perilaku beberapa tokoh dalam cerita pendek atau sandiwara tersebut. Radio dapat juga dipakai didalam kegiatan pembelajaran pada orang dewasa. Berita yang disampaikan melalui siaran radio dapat merangsang warga belajar untuk memberikan komentar berdasarkan pengalamannya sendiri.

D.    PENDEKATAN APPERSEPSI-INTERAKSI
Pendekatan appersepsi-interaksi dimulai dengan mengidentifikasi tema-tema masalah kehidupan sehari-hari warga belajar. Bahan-bahan belajar yang didasarkan pada tema-tema itu, kemudian disiapkan dalam lembaran-lembaran lepas berbentuk folder empat halaman, dengan gambar/foto yang merangsang dihalaman mukanya. Di halaman dalam berisi cerita terbuka mengenai masalah tertentu.
Dalam mempergunakan setiap unit pengajaran pertama peserta didik menghubungkan pengalaman dan perasaannya dengan gambar/foto yang ada di folder (appersepsi) kemudian warga belajar membahas dalam suatu diskusi mengenai isi folder tersebut (interaksi) guru berfungsi sebagai fasilitator, yaitu membantu peserta didik mencari kemungkinan-kemungkinan dalam pemecahan masalah yang dibicarakan dalam diskusi. Dalam situasi inilah peserta didik saling mendorong untuk mempertimbangkan berbagai pemecahan masalah yang mungkin dipecahkan, sering pula hasil diskusi itu menjadi dasar timbulnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di luar ruang kelas, metode ini mendorong warga belajar berpikir sendiri, serta menyelesaikan cerita itu dengan khayal.

E.     PENDEKATAN PERWUJUDAN DIRI (SELF ACTUALISATION APPROACH)
Pendidikan perwujudan diri sendiri dipergunakan oleh Maslow untuk menggambarkan kemanusiaan yang untuk pendekatan perwujudan diri mempunyai 4 ciri utama, yaitu:
1.      Proses yang berpusat pada peserta didik
Pendekatan perwujudan diri dimulai dari suatu kepercayaan yang kuat akan kemampuan individu, untuk menata kembali kehidupannya sendiri, asumsi yang mendasar adalah kesempatan-kesempatan untuk penemuan diri sendiri (Self Discovery) dapat mengembangkan kemampuan diri sendiri. Dalam hal ini, fungsi fasilitator terutama adalah menciptakan kesempatan-kesempatan untuk melibatkan peserta didik sebagai pribadi yang utuh dalam proses pembelajaran. Fasilitator harus dapat mengembangkan kemampuan peserta didik. Fasilitator harus mempunyai kemampuan untuk mendengarkan pendapat-pendapat peserta didik, tidak mendominasi pemikiran-pemikiran mereka, atau mendukung prakarsa-prakarsa mereka, apapun prakarsa yang mereka cetuskan asal sesuai dengan norma-norma yang ada.

2.      Belajar sesama teman dalam kelompok (Peer Learning)
Proses mewujudkan diri sendiri, dimulai dengan mengadakan hubungan saling mempercayai antara fasilitator dengan peserta didik. Rasa saling mempercayai antara fasilitator dengan peserta didik, merupakan persyaratan untuk mutlak diperlakukan, untuk menggerakkan proses pertumbuhan kelompok. Tanpa adanya saling percaya antara fasilitator dengan peserta didik, sulit didapatkan tingkat keikutsertaan yang tinggi. Fasilitator harus menganggap peserta didiknya itu sebagai teman sejawat, setaraf dengan dirinya menciptakan suasana saling menerima dalam melaksanakan pengalaman belajar. Fasilitator dituntut harus jujur dalam berhubungan dengan peserta didik dan konsekuen dalam usaha membantu peserta didik memainkan peranannya.

3.      Membantu timbulnya konsep diri yang positif
Konsep diri yang positif adalah cara pandang seseorang tentang dirinya sendiri secara positif, dan sampai seberapa jauh ia memandang dirinya sebagai pembawa perubahan. Pendekatan perwujudan diri sependapat pula dengan anggapan bahwa perubahan yang efektif itu, jika dinilai dari dalam diri seseorang, karena hal ini akan menimbulkan kemampuan-kemampuan memperoleh sikap positif, serta menimbulkan kepercayaan pada diri sendiri yang lebih besar. Karena itu peningkatan perwujudan diri akan memberikan rangsangan-rangsangan yang mendorong prakarsa peserta didik. Setiap kali peserta didik merasa cukup berani untuk mengambil prakarsa yang konstruktif, dan bukan hanya mengambil tanggapan dan saran-saran dari fasilitator, hal ini bagi mereka tidak hanya akan mendapat manfaat bagi perkembangan diri peserta didik. Pendekatan perwujudan diri akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami penilaian dan penghargaan terhadap diri mereka dari orang lain, serta berusaha pula untuk menyatakan pendapat yang menyimpang dari pandangan sesama peserta didik. 

4.      Daya khayal yang berdaya cipta
Pendekatan perwujudan diri menekankan kreativitas, yaitu penggunaan daya khayal yang melampaui batas-batas analisis fakta yang rasional. Banyak program-program dan kegiatan belajar yang dirancang untuk membantu peserta didik yang motivasinya rendah dengan penekanan pada pemecahan masalah.
Daya cipta dalam usaha-usaha pembangunan di daerah pedesaan sangat perlu dirangsang. Masyarakat pedesaan tradisional cenderung untuk mengadakan penyesuaian diri daripada melakukan inovasi, dengan mengikuti tata cara yang tradisional, maka seseorang mendapatkan rasa aman, meskipun dengan cara-cara tersebut tidak memberikan pemecahan yang memuaskan, bagi pembangunan akan terhambat jika daya cipta dan daya pandang masyarakat tidak dihidupkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar