Jumat, 18 November 2011

PENGANTAR UMUM


A.    HAKEKAT MANUSIA
Hakekat manusia pada dasarnya dapat dibagi kepada berbagai pandangan.
1.      Pandangan Islam
Islam memandang hakikat manusia bukan berdasarkan pandangan pribadi atau individu orang yang memandang, akan tetapi pandangan yang didasarkan atas ayat-ayat Tuhan yang terkandung di dalam Al-qur’an atau pandangan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Atas dasar pandangan tersebut, hakikat manusia dalam Islam dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.       Manusia Sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan/Allah
Tuhan sebagai pencipta disebut Khalik, dan selain dari Tuhan dinamakan Makhluk. Idealnya setiap makhluk harus patuh bertingkahlaku sesuai dengan aturan yang ditetapkan penciptanya. Contoh, kalau seorang insyinyur membuat sebuah roda, maka tugas atau “tingkah laku” roda itu adalah untuk berputar sesuai dengan ketentuanyang dikehendaki oleh insyinyur tersebut. Bila roda tersebut tidak dapat berputar sesuai dengan ketentuan insyinyur, roda yang semacam itu disebut cacat atau rusak.
Begitu pula dengan kondisinya manusia sebagai makhluk Tuhan, jika ia tidak mau patuh kepada khaliknya berarti manusia yang demikian telah rusak. Dalam kenyataan yang ditemui, ada manusia yang baik/patuh, dan ada yang ingkar kepada khalik (Q.S 95:5). Tuhan mau mengangkat posisi atau derajat manusia, tetapi sebahagian manusia yang ingkar disebabkan oleh kebodohan dan atau kesombongannya, krena tidak bersedia untuk memahami aturan Tuhan.

b.      Manusia Sebagai Khalik (“Manager”)
Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang mau memposisikan manusiapada tempat yang tinggi dari segala makhluknya yaitu sebagai khalifah (manager) untuk mengatur alam ini, berdasarkan aturan raya (universe) diciptakan/dikendalikan langsung oleh Tuhan yang mempunyai nama/sifat yang maha baik yaitu  Asma’ul Husna. Semua sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kondisi yang tidak terbatas (unlimited). Contoh, Tuhan ada Tuhan mendengar, keberadaan dan pendengaran Tuhan sifatnya tidak terbatas. Adanya Tuhan sepanjang masa (kekal) dan ia tak mampu mendengar apa saja, kapan saja, dan dimana saja.
Untuk melaksanakan fungsi kekhalifahan itu manusia dianugerahi oleh Tuhan sebagian dari sifat-sifat-Nya, namun sedikit manusia yang bersyukur kepada-Nya itu (Q.S. 32:9). Tuhan sebagai pengatur alam (Rabbul alamin), karena ia mempunyai sifat pengatur/manager. Agar manusia mampu sebagai pengatur dibekali-Nya manusia dengan jalan memberikan sebagian dari sifat-sifat-Nya.
Sangat penting dipahami oleh setiap individu manusia bahwa sifat-sifat dimiliki Tuhan yang dianugerahkan-Nya secara terbatas kepada manusia merupakan potensi dan fitrah manusia yang perlu ditumbuhkembangkan  melalui proses pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat. Contoh salah satu sifat Tuhan yaitu Al Khaliq (Maha Kreatif) begitu juga manusia memiliki sifat kreatif yang harus ditumbuhkembangkan sesuai dengan norma yang ditentukan Tuhan dalam aturan-Nya.
Setiap manusia yang dewasa dan normal disuruh berfikir serta menggunakan daya kreatifitasnya untuk mengukur potensi dan fitrah manusia yang paling tepat untuk ditumbuhkembangkan oleh setiap dirinya. Inilah yang disebut dengan bakat.
Akhirnya pandangan islam terhadap hakikat manusia dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus beraktifitas selama hayatnya dalam rangka menumbuhkembangkan segala potensi yang ada padanya, dan tetap memelihara fitrah (kesucian dirinya) menurut norma atau aturan yang ditetapkan Tuhan.

2.      Pandangan Ilmuan Barat
Selanjutnya dalam uraian berikut akan dibahas beberapa pandangan para ilmuwan “Barat” tentang hakikat manusia.
a.       Pandangan Psiko Analitik
Istilah Psiko Analitik berasal dari psyche=jiwa, analisis=penguraian atau pemilah-milahan sehingga terwujud bagian demi bagian. Jadi, psiko analitik adalah suatu aliran dalam ilmu jiwa yang mencoba menganalisis kejiwaan manusia atas bagian-bagiannya. Analisis tersebut bukan didasarkan kepada hasil suatu eksperimen, tetapi atas dasar tinjauan filosofis dan spekulatif (Bigge, 1982:23). Pada tingkat permulaan dari perkembangan ilmu ini adalah dimulai dari filsafat yang arah berfikirnya bersifat renungan dan spekulatif, demikian pulalah dasar Psiko Analitik ini.
Pandangan Psiko Analitik ini dipelopori oleh Freud yang menyatakan bahwa kepribadian manusia itu dapat dianalisis sebagai berikut.
1)      Id
Id ini adalah suatu fungsi kepribadian manusia yang peranannya adalah merupakan sumber penggerak dari tingkah laku manusia. Dalam Id itu tersimpan dorongan-dorongan keinginan yang tidak disadari.
2)      Ego
Ego adalah bagian dari kepribadian (kejiwaan) manusia yang menjembatani antara dunia luar dengan individu manusia.
3)      Superego
Superego adalah bagian kepribadian manusia yang mengontrol atau mengawasi setiap dorongan-dorongan dari Id supaya tersalur menurut nilai-nilai (values), moral, adat, cara kehidupan sosial yang diakui oleh individu yang bersangkutan.

b.      Pandangan Humanistik
1)      Rogers
Menurut Rogers, manusia adalah makhluk yang terus berubah atau diibaratkan dengan air yang mengalir yang tanpa hentinya. Manusia itu tidaklah statis, dan tidak kaku, tetapi sesuatu yang berevolusi sepanjang masa. Manusia itu sanggup mengontrol dan mengarahkan dirinya, dan dalam batas tertentu dapat menentukan nasibnya sendiri.
2)      Jean Jacques Rousseau
Patterson mendeskripsikan, pada dasarnya hakikat manusia itu adalah baik tetapi dirusak oleh masyarakat atau lembaga.
3)      Martin Buber
Manusia adalah makhluk yang cerdik, dan tidak pernah merasa puas dan atau aman dengan apa yang telah dicapainya, demikian juga cenderung melanggar aturan yang telah dibuat.

3.      Pandangan Behavioristik
Istilah behavioristik berasal dari behavior yang artinya tingkah laku atau perbuatan manusia. Menurut pandangan kaum behavioristik ini perbuatan, tingkah laku, perangai manusia itu ditentukan oleh lingkungan dimana dia berada.
Teori Stimulus Respon, setiap ada stimulus akan dibalas dengan respon sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan saat itu. Dengan demikian terjadilah hubungan antara stimulus dengan respon (Stimulus Response Connection/Bond).
Classical Conditioning Theori (teori kondisi/syarat klasik tentang stimulus respons) bertitik pangkal dari pemenuhan kebutuhan yang diatur secara klasik. Klasik adalah menunjuk kepada respon yang reaksinya timbul secara reflektif.


B.     HAKEKAT BELAJAR DAN PENDIDIKAN
1.   Konsep Dasar Belajar dan Pendidikan
              Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari aturan (norma) yang ada. Belajar, ada yang tidak mengandung norma, contohnya belajar membunuh, pencuri mengajar temannya agar mampu mencuri, atau menipu. Karena itu tidak ada istilah pendidikan untuk menipu, atau pendidikan untuk membuat orang menjadi munafik.
              Memang setiap pembelajaran harus mengandung unsur pendidikan, namun kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Begitulah realita yang dijumpai dewasa ini. Akibatnya belajar tanpa mengandung unsur pendidikan/norma, peserta didik akan mempunyai kompetensi dasar atau kemampuan tertentu, tetapi kemampuan yang dimiliki itu digunakan kepada yang tiddak sesuai dengan norma yang seharusnya.

2.    Kaitan Hakekat Belajar dan Hakekat Manusia
              Belajar adalah suatu proses perubahan yaitu tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Belajar juga dapat dikatakan sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam kehidupannya.
Jika ditinjau hakekat manusia menurut pandangan islam, maka manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus beraktifitas selama hayatnya dalam rangka menumbuhkembangkan potensi yang dimilikinya dengan tetap memelihara kesucian diri (fitrah) menurut norma yang ditetapkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan potensi yang dimilikinya, maka sangat perlu manusia tersebut memperoleh pelajaran atau belajar sepanjang hayatnya. Inilah kaitan antara hakekat belajar dengan hakekat manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar